Koperasi Lada Diharapkan Potong Rantai Perdagangan

Pangkalpinang, Panjangnya rantai perdagangan Lada Putih, menurut Lukman M Baga, Ketua Tim dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyebabkan rendahnya harga lada yang diterima Petani. Keberadaan Koperasi Lada diharapkan dapat memotong rantai perdagangan.

Hal tersebut diungkapkan Lukman M Baga pada saat Diskusi Penyusunan Kajian Tentang Pengembang Ekspor Komoditas Unggulan Melalui Koperasi Lada Putih, di Ruang Tanjung Pendam, Kantor Gubernur Kep. Babel, Jum'at (20/09).

"Di Negara yang agribisnisnya maju, berdasarkan hasil kesimpulan dari kajian dan penelusuran kami, ada lembaga yang kuat dibelakang petani, lembaga tersebut didominasi oleh Koperasi," ungkap Lukman M Baga.

Untuk melakukan itu, menurutnya, perlu dilakukan penguatan terhadap kelembagaan Koperasi Lada. Ada empat hal yang dikemukakan Lukman M Baga. Pertama Koperasi Lada harus diupayakan untuk menjadi penjual utama Lada Putih.

"Jadi, boleh dikatakan bahwa sebagian besar lada kita harus dijual melalui Koperasi Lada, inilah yang harus kita pikirkan bersama, ini merupakan titik kritisnya, bila kita tidak bisa mengarahkan kesana, maka pola perdagangan akan terus dikuasai oleh pedagang-pedagang yang tidak berpihak pada petani," katanya.

Kedua, Koperasi Lada Go Ekspor Lada Putih. Menurut Lukman, untuk mendapatkan harga Lada Putih yang bagus, Koperasi Lada harus bermain di pasar ekspor. "Apalagi branding Lada Putih sangat bagus di dunia, ini sering disalahgunakan oleh Negara lain," ungkapnya.

Ketiga, Inovasi dan diversifikasi produk Lada Putih. Menurutnya, teknologi pengembangan produk lada sudah banyak tersedia, untuk bahan baku atau Lada Putihnya, dapat memanfaatkan yang ada di dalam Sistem Resi Gudang (SRG). "Untuk yang keempat adalah, Inovasi Pemasaran Berbasis ICT di Era 4.0," katanya.

Pada kesempatan yang sama, salah satu anggota Tim dari IPB, Prayoga Suryadarma mengatakan, perlu adanya diversifikasi produk dari Lada Putih. Prayoga menjelaskan, bila hanya ada satu pembeli besar dan petaninya banyak, yang menentukan harga adalah pembeli.

"Dengan kita mendiversifikasikan produk Lada, maka jumlah pembeli akan bertambah banyak, misalnya dengan memisah kualitas lada. Lada premium kita jadikan bubuk Lada premium, untuk kualitas yang lebih rendah, selain dijadikan bubuk kita jadikan minyak lada," katanya.

Menurutnya, selain ampas dari pengolahan minyak lada, tangkai, daun serta ranting dari lada dapat dimanfaatkan untuk membuat produk lada lainnya. "Dengan diversifikasi produk lada, kita akan menciptakan pembeli-pembeli baru, bukan pembeli konvensional yang selama ini kita lakukan," ujarnya.

Sebelumnya, Kabid Penelitian dan Pengembangan Daerah, Bappeda Kep. Babel, Adhari, mengatakan, kerjasama antara Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan IPB sudah memasuki tahun ketiga. Untuk tahun pertama, Tim dari IPB melakukan riset terhadap rantai nilai dan rantai pasok dari Koperasi Lada.

"Pada tahun kedua, Tim IPB melakukan riset terhadap Koperasi Lada, dan tahun ini sudah memasuki tahun ketiga, riset masih mengenai Koperasi Lada dengan ditambahkan beberapa tools dan fokus terhadap hilir dan ekspor," ungkap Adhari.

Penulis: 
Rizky Fitrajaya
Sumber: 
Bappeda Kep. Babel