PAD Pariwisata Babel Melambat

Tahun 2019 nampaknya bukanlah tahun menggembirakan bagi Kepulauan Bangka Belitung, setelah terpuruk menjadi provinsi dengan pertumbuhan terendah kedua di Sumatera. Angka pertumbuhan ekonomi Babel tahun 2019 hanya tercatat sebesar 3, 32 %. Angka pertumbuhan itu juga berarti bahwa angka pertumbuhan tahun 2019 merupakan yang terendah selama ini. Keprihatinan itu diikuti pula dengan melambatnya perolehan daerah dari sektor pariwisata di Babel.

Angka Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dikumpulkan berdasarkan data dari kabupaten/ kota menggambarkan perlambatan tersebut. Pengumpulan angka PAD dari ketujuh kabupaten/kota se Babel dilakukan dengan melihat semua pendapatan yang terkait pariwisata seperti pajak hotel, pajak restoran, dan pajak hiburan. Beberapa pendapatan dari retribusi juga dimasukan seperti retribusi masuk ke tempat wisata, serta hasil dari pengelolaan Kawasan wisata lainnya yang dimiliki daerah. PAD sektor pariwisata ini semuanya berada dalam kewenangan pemerintah Kabupaten Kota. Sementara ini pemerintah provinsi tidak memiliki pos pendapatan daerah yang berkaitan langsung dengan kepariwisataan. Hal tersebut sejalan dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Sebagai catatan, dengan telah disempurnakannya Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah maka selayaknya pula keberadaan undang-undang tentang pajak dan retribusi daerah ini dipandang perlu pula mendapatkan penyesuaian sehingga sesuai dengan suasana terkini yang terjadi di daerah.

Apabila di tahun 2018 PAD dari pariwisata di Bangka Belitung berhasil melaju dengan angka pertumbuhan 22,37 % dibandingkan dengan pendapatan 2017 dengan total pendapatan sebesar Rp. 58,242 milyar. Di tahun 2019 angka pertumbuhan PAD pariwisata hanyalah naik sebesar 9,18% saja dibanding 2018, atau menjadi sebesar Rp. 63,589 milyar.

Terdapat tiga kabupaten yang PAD pariwisatanya berada di bawah realisasi tahun 2018 yang lalu yaitu pertama: kabupaten Bangka Barat yang hanya mendapatkan PAD 91,72% dibanding 2018 atau Rp. 2,415 milyar. Padahal di tahun 2018 PAD pariwisata Bangka Barat tercatat sebesar Rp. 2,633 milyar.  Kedua, Kabupaten Belitung yang hanya mengumpulkan PAD pariwisatanya sebesar Rp. 20,630 milyar, atau berarti hanya sebesar 97,69 % jika dibandingkan PAD pariwisata tahun 2018 yang berjumlah Rp. 21,119 milyar. Ketiga, Kabupaten Bangka dengan realisasi tahun 2019 yang juga sedikit lebih kecil dibanding tahun lalu yaitu 99,32 % atau sebesar Rp. 4,973 milyar. Di tahun 2018. Bangka mengumpulkan PAD pariwisata sebesar RP. 4,939 milyar.

Di samping tiga daerah yang mengalami penurunan pendapatan seperti yang telah dijelaskan di muka ternyata terdapat empat daerah yang justru memperoleh PAD pariwisata yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2018. Keempat daerah tersebut ialah kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka  Tengah, Kabupaten Belitung Timur dan Kabupaten Bangka Selatan.

Pertambahan pendapatan tertinggi dicapai oleh Kota Pangkalpinang di 2019 dengan mengumpulkan pendapatan sebesar 133,16%  atau sebesar Rp. 19,186 milyar jika dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara di 2018 PAD pariwisatanya hanya sebesar Rp. 14,408 milyar. Pertambahan tertinggi kedua diperoleh Bangka Tengah dengan realisasi Rp. 12,716 milyar atau 109,98% dibanding tahun 2018 yang berjumlah Rp. 11,562 milyar.  Ketiga, Kabupaten Belitung Timur dengan capaian Rp. 1,904 milyar, atau 106,60 % jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berjumlah Rp. 1,786 milyar. Dan selanjutnya Kabupaten Bangka Selatan yang angka pertumbuhannya sebesar 102,11 % atau Rp. 1,795 milyar, sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2018 yang berjumlah Rp. 1,758 milyar.

 

Realisasi PAD terkait Pariwisata di Kabupaten/Kota se-Kepulauan Bangka Belitung

Tahun 2018 - 2019 (dalam rupiah)

KABUPATEN/ KOTA

2018

2019

PANGKALPINANG

14,408,472,674.00

 19,186,774,033.00

BANGKA

 4,973,791,790.52

 4,939,768,775.76

BANGKA TENGAH

11,562,647,670.00

 12,716,240,849.00

BANGKA BARAT

 2,633,863,893.00

 2,415,783,610.00

BANGKA SELATAN

 1,758,379,032.00

 1,795,405,800.00

BELITUNG

21,119,104,269.38

 20,630,999,930.13

BELITUNG TIMUR

 1,786,211,795.00

 1,904,133,543.00

TOTAL

 58,242,471,124.00

 63,589,106,541,00

Sumber data: Rekapitulasi Laporan PAD bersumber dari Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan dan Retribusi terkait Pariwisata Pemerintah Kabupaten/Kota ke Badan Keuangan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tahun 2018 dan Tahun 2019

Kunjungan Tamu

Adanya perlambatan di bidang pendapatan daerah untuk sektor pariwisata ini menggambarkan pula kondisi yang menyelimuti dunia kepariwisataan Bangka Belitung. Setidaknya terdapat hubungan yang cukup berarti antara jumlah kunjungan wisatawan dengan pendapatan daerah yang disampaikan tadi.  Walaupun demikian, ada beberapa kasus dimana pertambahan jumlah wisatawan tidak selalu berarti tambahan pendapatan. Misalnya saja jumlah wisatawan yang mungkin saja banyak namun waktu tinggal dan kualitas perjalanannya tidak terlalu mahal akan kalah dampaknya dibandingkan dengan wisatawan yang tinggal lebih lama dengan pilihan model wisata yang juga lebih berkualitas. Sebagai contoh, jika ada wisatawan datang berjumlah 50 orang dan menginap hanya dua malam saja di hotel yang kamarnya bertarif Rp. 500 ribu/malam dengan rata-rata pengeluaran Rp 2 Juta/hari/pax, maka uang yang terkumpul sebagai pendapatan sekitar Rp.500 ribu/orang/hari atau hanya Rp. 5 juta dari 50 orang tadi. Bandingkan dengan wisatawan yang hanya berjumlah 25 orang tetapi masa tinggalnya 4 hari dengan tarif kamar sekitar Rp. 750 ribu/hari/pax. Maka uang pendapatan yang mungkin didapat ialah sebesar Rp.7,5 juta. Artinya, kehadiran wisatawan yang lebih “kaya” dan punya lebih banyak waktu berkunjung juga menentukan besaran pendapatan yang akan masuk ke dalam kas pemerintah/daerah.

Berdasarkan jumlah tamu yang menginap di hotel bintang di Babel yang dicatat oleh BPS, maka sepanjang tahun 2019 jumlahnya sebanyak 438.774 orang atau lebih banyak sekitar 3,01% dibanding jumlah tamu yang sama di tahun 2018 yang berjumlah 425.942 orang.

Daerah yang paling terpengaruh oleh jumlah tamu yang berkurang ini adalah Kabupaten Belitung. Jika di tahun 2018 tamu yang tercatat berjumlah 186.466 orang, maka di tahun 2019 jumlahnya turun menjadi hanya 166.078 orang, atau berkurang sebesar 10,93%. Bandingkan misalnya Kota Pangkalpinang yang jumlah tamunya meningkat dari tahun 2018 sebanyak 100.930 orang menjadi 144.863 orang atau meningkat sebanyak 43,52 %.

Penurunan jumlah tamu di Belitung tersebut kemungkinan masih diakibatkan adanya kenaikan harga tiket yang memang sangat terasa di Pulau Belitung. Namun jika itu memang benar, muncul pertanyaan mengapa kenaikan PAD Pariwisata di Belitung Timur justru tetap bertambah? Salah satu kemungkinannya ialah kegiatan-kegiatan yang bersifat MICE  (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) di Belitung berkurang jumlahnya dibandingkan tahun 2018,karena wisatawan yang datang dalam rangkaian kegiatan MICE ini sebagian besar biasanya tinggal di Kota Tanjungpandan. Hal yang sebaliknya terjadi di Kota Pangkalpinang. Sepanjang tahun 2019 cukup banyak kegiatan MICE yang berlangsung di Pangkalpinang sebagai ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Baik itu dalam bentuk kegiatan skala provinsi, regional, nasional maupun internasional. Sehingga sangat mungkin jumlah tamu yang datang pertambahannya cukup mengesankan.

Mumpung masih di awal tahun maka kita mengharapkan masing-masing pemerintah daerah kabupaten/kota se Babel akan menyusun langkah-langkah terbaik untuk mengundang wisatawan berkunjung dan menjadi tamu di wilayahnya masing-masing, dan semuanya tentu saja dengan pengawalan dari pemerintah provinsi. Karena, efektivitas strategi pemasaran pariwisata hanya mungkin tercipta secara optimal manakala sinergi dan sinkronisasi antar kegiatan di daerah dapat berlangsung dengan baik. Sayangnya hal itu memang tidak mudah dilaksanakan! Salam Takzim.


Artikel ini telah terbit di Harian Bangka Pos edisi cetak, 24 Februari 2020

* DR. Yan Megawandi, SH., M.Si.: Widyaiswara Ahli Utama BKPSDM Prov. Kep. Babel (Sebelumnya: Sekretaris Daerah Prov. Kep. Babel, Kepala Bappeda Babel, Kepala BKPMD Babel, Kepala Disbudpar Babel)

**Rusni Budiati, S.I.P., M.Sc., M.Eng. : Penerjemah Ahli Madya Bappeda Prov. Kep. Bangka Belitung (Sebelumnya: Kepala Bidang Destinasi Disbudpar babel, Kepala Seksi Analisis Pasar Pariwisata Babel, Kepala Seksi Analisis Pasar, Promosi dan Bimas Disbudpar Babel)

Sumber: 
-
Penulis: 
Yan Megawandi * & Rusni Budiati**
Bidang Konten: