Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Kemiskinan Kabupaten/Kota Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Pada Periode Tahun 2010-2019

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator utama yang selalu diprioritaskan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Hal tersebut dikarenakan, pertumbuhan ekonomi berkolerasi terhadap pendapatan perkapita. Disamping itu, pertumbuhan ekonomi mengindikasikan terjadinya pembangunan ekonomi di banyak bidang. Simon Kuznets (1871) dalam teorinya menyatakan bahwa, pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin banyak jenis barang-barang ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi dan penyesuaian kelembagaan dan ideologis yang diperlukannya (Jhingan, 2016).

Negara yang sedang membangun seperti Indonesia sangat mengharapkan pertumbuhan ekonomi yang stabil, dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil diharapkan dapat mengatasi masalah kemiskinan, pengangguran, kesehatan, pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi suatu negara, khususnya negara yang sedang membangun, akan menjadi multiplier effect terhadap bidang-bidang yang lain. Oleh sebab itu, pertumbuhan ekonomi menjadi prioritas utama suatu negara guna mensejahterakan penduduknya (Masriah, 2011).

Secara teori, pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah. Pertumbuhan ekonomi merupakan kenaikan Produk Domestik Bruto  (PDB) atau Pendapatan Nasional Bruto (PNB) rill. Sejak lama, para ahli ekonomi telah menganalisis faktor-faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah Indeks Pembangunan Manusia dan Angka Kemiskinan. Membaiknya dan meratanya Indeks Pembangunan Manusia dan penurunan jumlah penduduk miskin akan mempercepat pertumbuhan ekonomi (Melliana dan Zain, 2013).

Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan kenaikan produksi suatu negara atau kenaikan pendapatan per kapita suatu negara. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi erat kaitannya dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atau produk domestik regional bruto (PDRB) jika dalam lingkup daerah. Beberapa hasil kajian dan penelitian telah diperoleh bahwa IPM, pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan memiliki keterkaitan yang erat. Asian Development Bank (2008) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dinamis telah banyak mengurangi kemiskinan. Jumlah penduduk yang berjuang untuk hidup dengan $1 atau kurang per hari telah turun dari 900 juta tahun 1990 menjadi 600 juta sekarang. Ini dapat diartikan sebagai peningkatan pendidikan, kesehatan yang lebih baik, usia yang lebih panjang, dan kesempatan yang lebih besar.

Siregar dan Wahyuniarti (2008) meneliti mengenai dampak pertumbuhan ekonomi terhadap penurunan jumlah penduduk miskin,berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap penurunan jumlah penduduk miskin walaupun dengan magnitude yang relatif kecil, seperti inflasi, populasi penduduk, share sektor pertanian, dan sektor industri. Selain itu Sjafi’i dan Hidayati (2009) menyatakan bahwa tersedianya SDM yang berkualitas ini merupakan syarat penting berlangsungnya pembangunan ekonomi secara berkesinambungan.

Sitepu dan Sinaga (2004) juga mengkaji mengenai dampak investasi sumber daya manusia terhadap kemiskinan, hasilnya bahwa investasi sumber daya manusia untuk pendidikan dapat menurunkan poverty incidence, poverty depth dan poverty severity kecuali untuk rumah tangga bukan pertanian golongan atas di desa, bukan angkatan kerja di kota dan bukan pertanian golongan atas di kota, sedangkan investasi kesehatan hanya di rumah tangga bukan pertanian golongan atas di kota yang mengalami peningkatan sementara rumah tangga lainnya mengalami penurunan indeks kemiskinan.

Indeks Pembangunan Manusia merupakan ukuran untuk melihat dampak kinerja pembangunan wilayah yang mempunyai dimensi sangat luas, karena memperlihatkan kualitas penduduk suatu wilayah dalam hal harapan hidup, pendidikan dan standar hidup layak (Melliana dan Zain, 2013). Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran, sehingga penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan (BPS, 2019).

Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut diatas, maka menjadi penting untuk melakukan analisis lebih lanjut mengenai hubungan Indeks Pembangunan Manusia dan pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat Kemiskinan Kabupaten/Kota khususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam 10 (sepuluh) tahun terakhir yaitu 2010 s.d 2019. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode data panel (pooled data), yaitu gabungan data Time Series dan Cross Section. Pengelolaan data menggunakan regeresi 3 model yaitu common effect model, fixed effect model dan random effect model. Dari ketiga model tersebut dipilih model yang paling relevan sehingga dari permodelan tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan dan mendapatkan suatu keputusan untuk analisis yang telah dilakukan.

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari analisa mengenai hubungan pengaruh antara Indeks Pembangunan Manusia dan Kemiskinan terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diharapkan dapat menjadi masukan bagi para pemangku kepentingan dalam menentukan strategi pembangunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

IPM, Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan Kabupaten/Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Indeks Pembangunan Manusia menurut BPS adalah indikator yang digunakan untuk mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Sebagai ukuran kualitas hidup, Indeks Pembangunan Manusia dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar mencakup umur panjang dan sehat, pengetahuan, dan kehidupan yang layak.

Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari tahun 2010 sampai dengan 2019 cenderung mengalami kenaikan. Adapun gambaran kenaikan Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdapat pada Gambar 1 berikut ini:

Gambar 1. Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2010-2019

Sumber : Data diolah dari BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Dalam Angka tahun 2010-2019 (2020)

 

Berdasarkan Gambar 1 di atas, indeks pembangunan manusia di Kabupaten/Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari tahun ke tahun terus mengalami perbaikan. Hal ini terlihat dari nilai Indeks Pembangunan Manusia yang terus meningkat sejak tahun 2010. Selama periode 2010-2019, Kota Pangkalpinang menempati posisi pertama dalam peringkat IPM, sedangkan Kabupaten Bangka Selatan merupakan wilayah dengan angka IPM terendah dibanding peningkatan yang dicapai kabupaten/kota lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pada tahun 2019 Kota Pangkalpinang mencapai  nilai tertinggi untuk umur harapan hidup yaitu 73,27 tahun, tidak hanya tinggi pada capaian indikator kesehatan, Kota Pangkalpinang juga mencapai peringkat teratas dalam indikator dimensi pengetahuannya yaitu harapan lama sekolah penduduk Kota Pangkalpinang tahun 2019 tercatat sebesar 12,99 tahun dan angka rata-rata lama sekolah sekolah sebesar 9,80 tahun. Selanjutnya dari dimensi standar hidup layak, kembali Kota Pangkalpinang menempati urutan teratas. Pada tahun 2019, pengeluaran per kapita yang disesuaikan Kota Pangkalpinang mencapai Rp15.883.000,- setahun, dengan gaya hidup masyarakat perkotaan yang lebih bervariasi dalam pola konsumsinya menjadi salah satu alasan mengapa pengeluaran per kapita yang disesuaikan Kota Pangkalpinang tertinggi dibanding kabupaten lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

 

Rendahnya angka IPM Kabupaten Bangka Selatan dilihat dari capaian komponen penyusunnya. Pada tahun 2019 Kabupaten Bangka Selatan capaian umur harapan hidup sebesar 67,90 merupakan capaian terendah diantara Kabupaten/Kota lainnya,  untuk capaian indikator dimensi pengetahuan Kabupaten Bangka Selatan masih menjadi yang terendah dengan  harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Bangka Selatan pada tahun 2019 masing-masing mencapai 11,36 tahun dan 6,42 tahun, terindikasi belum berhasil mengentaskan program wajib belajar 12 tahun dilihat dari rata-rata lama sekolah penduduknya yang masih kurang dari 12 tahun.

 

Dalam konteks kewilayahan, Pertumbuhan Ekonomi merupakan salah satu indikator utama bagi Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari tahun 2010 sampai dengan 2019 mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Demikian halnya dengan beberapa indikator seperti indeks pembangunan manusia dan persentase penduduk miskin yang mempengaruhi PDRB, berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah. Kondisi laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten/Kota 2010 s.d 2019 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagaimana yang ditunjukkan pada Gambar 2:

 

 

 

Gambar 2. Laju pertumbuhan PDRB Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2010-2019

Sumber : Data diolah dari BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Dalam Angka Tahun 2010 -2019 (2019)

 

Gambar 2 menunjukkan bahwa secara umum pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2010 s.d 2019 terus menunjukkan trend peningkatan, meskipun di beberapa kabupaten/kota terjadi fluktuasi yang tidak signifikan. Namun pada tahun 2012 pertumbuhan ekonomi kabupaten Bangka Tengah mengalami perlambatan dan puncaknya berada pada tahun 2015 dimana penurunan pertumbuhan PDRB Bangka Tengah mencapai titik terendah diantara Kabupaten/Kota lainnya yaitu sebesar 0,31%, Hal ini dikarenakan PT Koba Tin, perusahaan peleburan timah terbesar di Bangka Tengah berhenti beroperasi. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi di Bangka Tengah pada tahun-tahun berikutnya menunjukkan trend peningkatan yang didukung dari sektor lain seperti perdagangan dan pertanian.

 

Pada tahun 2019, perlambatan terjadi pada hampir seluruh Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Beltitung. Hal ini disebabkan karena adanya pengaruh perlambatan ekonomi nasional dan global, Meskipun demikian, ditopang dengan Industri Pengolahan Logam, Perdagangan, dan Pertanian, laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Bangka Barat tumbuh sangat positif yaitu sebesar 7,13%.

 

Untuk capaian pembangunan manusia dari sisi ekonomi tidak hanya dilihat dari sisi pendapatan ataupun dari peningkatan produksi barang dan jasa yang dihasilkan di suatu wilayah. Persentase jumlah penduduk miskin juga menjadi indikator penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat yang bisa menggambarkan capaian pembangunan yang terjadi di suatu daerah. Pemerintah terus berusaha mengurangi jumlah penduduk miskin di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari tahun ke tahun.

 

Terkait dengan persentase penduduk miskin di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dalam kurun 10 tahun terakhir, tingkat kemiskinan di Kabuaten/Kota di Wilayah Provinsi Kepulauan bangka Belitung mengalami penurunan. Gambaran mengenai tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebagaimana termuat pada gambar 3.

 

 

Gambar 3. Persentase penduduk miskin Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2010-2019

Sumber : Data diolah dari BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Dalam Angka tahun 2010-2019 (2019)

 

Berdasarkan Gambar 3 menunjukkan penurunan persentase penduduk miskin Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama periode 2010-2019. Hal ini sejalan dengan membaiknya fasilitas dan infrastruktur Pendidikan dan kesehatan. Adapun persentase penduduk miskin terendah berada di Kabupaten Bangka Barat yang menyentuh angka 2,74%. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, tingkat kemisminan tertinggi terjadi pada tahun 2010 di Kabupaten Belitung Timur sebesar 10,36%. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah persentase penduduk miskin yang berangsur menurun, salah satunya ialah sudah meluasnya lapangan pekerjaan yang mulai merambah ke daerah pelosok-pelosok sehingga pendapatan yang didapat mulai meningkat.

 

Pengaruh IPM dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Untuk mengukur pengaruh IPM dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dilakukan analisis menggunakan regresi data panel dengan hasil pengujian model yang terbaik. Dari hasil pengujian yang dilakukan, didapat pendekatan bahwa random effect model adalah yang terbaik, dengan persamaan sebagai berikut yaitu:   Kemiskinan = 27,858130,316014 IPM -0,122382 PE + εit..... (1)

 

Berdasarkan hasil persamaan, uji statistik menunjukkan koefisien regresi variabel IPM sebesar 0,316404 dengan menggunakan alpha 5%, mempunyai pengaruh signifikan dan negatif terhadap kemiskinan. Hal ini memberikan informasi bahwa setiap kenaikan IPM sebesar 1 (persen) maka akan menurunkan kemiskinan di Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 31,6014 (persen) dalam kondisi ceterisparibus. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Prasetyoningrum dan Sukmawati (2018) yang berjudul “Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Pertumbuhan Ekonomi dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Indonesia” yang menyatakan bahwa IPM berpengaruh secara signifikan dan negatif terhadap tingkat kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan tingkat kemiskinan, kemudian tampak pula bahwa pengangguran berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan.

 

Menurunnya tingkat kemiskinan karena IPM yang meningkat mengindikasikan bahwa IPM dapat meningkatkan produktivitas kerja manusia, yang akan meningkatkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup layak. Kondisi ini dapat dijelaskan dimana IPM merupakan indeks komposit yang terbentuk dari indeks pendidikan masyarakat, indeks kesehatan masyarakat dan indeks kemampuan daya beli masyarakat (purchasing power parity).

 

Kemiskinan yang terjadi di Kabupaten/Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung erat kaitannya dengan pendidikan dan kesehatan masyarakat yang belum optimal. Pemerintah berperan penting dalam mengoptimalkan peningkatan sumber daya manusia atau modal manusia (Human Capital) dengan menstimulus riset dan pemajuan dalam meningkatkan produktivitas manusia yang merupakan teori pertumbuhan ekonomi baru. Pendidikan memiliki peranan penting dalam meningkatkan kemampuan untuk menyerap teknologi modern dan mengembangkan kapasitas dalam mewujudkan pertumbuhan serta pembangunan. Selain itu, untuk kesehatan menjadi syarat dalam meningkatkan produktivitas, karena dengan kesehatan, pendidikan mudah dicapai. Dalam hal ini, kesehatan dan pendidikan merupakan komponen penting pembangunan ekonomi dalam membantu mengurangi kemiskinan. Dengan pendidikan dan kesehatan maka pendapatan tinggi akan mudah diperoleh. Begitu sebaliknya dengan pendapatan tinggi maka akan mudah mengeluarkan dana untuk kesehatan dan pendidikan. Pada sektor informal seperti pertanian, ketika ada peningkatan keterampilan dan keahlian tenaga kerja, maka akan dapat meningkatkan hasil pertanian. Karena dengan adanya tenaga kerja terampil yang bekerja lebih baik, maka produktivitas meningkat dan pada akhirnya kesejahteraan akan lebih baik. Hal ini dapat dilihat dari bertambahnya pendapatan dan peningkatan konsumsi.

 

Berdasarkan hasil persamaan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh secara signifikan dan negatif terhadap kemiskinan dikarenakan nilai probabilitas 0,1775 lebih dari tingkat probabilitas 5 %. Hal ini memberikan informasi setiap kenaikan pertumbuhan ekonomi maka tidak akan berdampak secara signifikan dalam mengurangi kemiskinan pada Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam kurun waktu 2010-2019. Apabila pertumbuhan ekonomi terjadi, pendapatan masyarakat miskin tidak mengalami perubahan yang dapat mengubah pendapatannya di atas garis kemiskinan. Kondisi ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi kurang memberikan manfaat kepada orang-orang miskin, dan pertumbuhan tersebut juga tidak dihasilkan oleh orang banyak. Tanpa adanya pertumbuhan ekonomi yang bermanfaat bagi orang miskin, maka pertumbuhan ekonomi tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap persentase kemiskinan. Menurut world bank (2006) pada periode setelah krisis, berkurangnya penduduk miskin lebih banyak disebabkan karena membaiknya stabilitas ekonomi dan turunnya harga bahan makanan, bukan karena pertumbuhan ekonomi.

 

Fokus Arah Pembangunan

Berdasarkan hasil analisis yang mengunakan metode analisis regresi panel dengan pendekatan Random Effect Model dapat disimpulkan bahwa, Indeks Pembangunan Manusia berpengaruh signifikan dan negatif terhadap kemiskinan Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sedangkan pertumbuhan ekonomi berpengaruh tidak signifikan dan negatif terhadap kemiskinan. Ini berarti jika, Indeks Pembangunan Manusia meningkat maka kemiskinan di Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2010-2019 akan menurun. Berdasarkan hasil tersebut, maka untuk mengurangi angka kemiskinan sudah sebaiknya Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengupayakan peningkatan pelaksanaan program-program strategis di bidang pendidikan, kesehatan dan program yang memiliki dampak langsung terhadap penguatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sehingga akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara merata, yang selanjutnya akan berdampak pada peningkatan kinerja serta pendapatan. Dengan demikian, jika Indeks Pembangunan Manusia terus mengalami peningkatan yang diikuti pula dengan pertumbuhan ekonomi, maka akan berdampak juga terhadap penurunan angka kemiskinan.

 

Hasil ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Mankiw (1992), bahwa jika negara menanam modal dengan memberikan perhatian khusus pada pendidikan untuk masyarakatnya, maka akan membuat pertumbuhan ekonomi menjadi lebih baik dari pada tidak, tapi penanaman modal atas sumber daya manusia melalui pendidikan akan menaikkan pendapatan nasional atau pergerakan perekonomian yang lebih tinggi.

 

Apabila distribusi penanaman modal tersebut dilakukan lebih  merata, termasuk di dalamnya golongan berpendapatan rendah, maka kemiskinan akan menurun Artinya, pertumbuhan tersebut harus terdistribusi disetiap kelompok/golongan pendapatan, termasuk kelompok penduduk kategori miskin (growth with equity). Secara langsung, ini menunjukkan bahwa, pertumbuhan ekonomi harus dipastikan mencapai lokasi atau bagian dimana penduduk miskin bekerja (pertanian, perkebunan atau sektor padat karya).

 

 

 

 

Rujukan

Ahmad Sjafi’i dan Nur Aini Hidayati. (2009). Genjot Anggaran Pendidikan-Redam Kemiskinan, dalam Gemari Edisi 101/Tahun X/Juni 2009: 68-69.

Ari Kristin Prasetyoningrum & U. Sulia Sukmawati (2018). Analisis Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Pertumbuhan Ekonomi dan Pengangguran terhadap Kemiskinan di Indonesia. Jurnal Ekonomi Syariah. Vol.6, No 2, E-ISSN: 2502-8316, 217–240.

Badan Pusat Statistik. (2019). Kepulauan Bangka Belitung Dalam Angka 2010-2019. https://babel.bps.go.id/

Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti, (2008), Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Jumlah Penduduk Miskin. Sebagaimana dimuat pada http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/PROS_2008_MAK3.pdf  Diakses tanggal 2 Desember 2020.

Jhingan. M.L. (2016). Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta: Rajawali Maharani, Kurnia dan Sri Isnowati. (2014). Kajian Investasi, Pengeluaran Pemerintah, Tenaga Kerja dan Keterbukaan Ekonomi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE): Vol.21, No.1. ISSN: 1412- 3126.

 

Masriah, dkk. (2011). Pembangunan Ekonomi Berwawasan Lingkungan.Malang : UM Press.

 

Melliana, A. & Zain, I. (2013). Analisis Statistika Faktor yang Mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Timur dengan Menggunakan Regresi Panel. Jurnal Sains dan Seni Pomits.2 (2), D237–D242.

 

N. G. Mankiw, D. Romer, and D. N. Weil (1992). A Contribution to the Empirics of Economic Growth,” Q. J. Econ., 1992: 10.2307/2118477.

 

Rasidin K. Sitepu dan Bonar M. Sinaga. (2004). Dampak Investasi Sumber Daya Manusia terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan Di Indonesia: Pendekatan Model Computable General Equilibrium. Sebagaimana dimuat pada laman http://ejournal.unud.ac.id/?module=detailpenelitian&idf=7&idj=48&idv=181&idi=48&idr=191. Diakses tanggal 2 Desember 2020.

 

 

Sumber: 
Bappeda Kep. Babel
Penulis: 
Atik Yulianti, S.Kom., ME