Pangkal Pinang – Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar Coaching Clinic Manajemen Risiko Pemerintah Daerah di Ruang Ketawai kantor Bappeda, Senin (20/10/2025). Kegiatan yang diikuti oleh perangkat daerah ini dibuka langsung oleh Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Joko Triadhi, dan menghadirkan Plt. Inspektur Provinsi, Imam Kusnaidi, sebagai narasumber.
Dalam sambutannya, Joko Triadhi menekankan bahwa penyusunan dokumen manajemen risiko adalah kewajiban yang tak terpisahkan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029 yang sedang dalam proses penetapan.
"Ada satu kewajiban bagi kita untuk menyusun dokumen manajemen risiko. Hari ini kita berdiskusi bagaimana dokumen perencanaan yang sudah kita susun tersebut, sekaligus kita ingin memastikan atau mengidentifikasi atau melakukan mitigasi terhadap potensi-potensi jika memang di dalam pelaksanaannya apa yang sudah kita rencanakan tersebut tidak tercapai," ujar Joko Triadhi.
Manajemen risiko pemerintah daerah bertujuan untuk mengidentifikasi dan memitigasi potensi risiko yang dapat menghambat pencapaian target pembangunan daerah. Joko Triadhi menyampaikan pentingnya mengidentifikasi langkah-langkah antisipasi dalam manajemen risiko untuk memastikan target dari sembilan sasaran pokok pembangunan dalam RPJMD 2025-2029 dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Sementara itu, Plt. Inspektur Imam Kusnaidi dalam paparannya menjelaskan konsep dasar risiko sebagai kemungkinan kejadian yang mengancam pencapaian tujuan. Ia membedakan antara "risiko" yang bersifat kemungkinan dan "masalah" yang merupakan fakta yang sudah terjadi.
"Kalau kita bicara kemungkinan, itu belum terjadi. Jadi segala sesuatu yang belum terjadi itu dianggap sebagai risiko," jelas Imam.
Imam menyoroti pentingnya pendekatan sistematis dalam mengelola risiko yang mencakup seluruh siklus manajemen pembangunan mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, hingga pengawasan. Menurutnya, setiap program strategis pemerintah daerah, seperti penanganan stunting, harus dikelola secara kolaboratif atau "dikeroyok" oleh berbagai perangkat daerah terkait untuk memitigasi risiko kegagalan.
"Kalau kita bicara strategis Pemda, itu dikeroyok sesuai dengan masing-masing tupoksinya. Stunting itu kita keroyok, Bapak Ibu, bukan hanya Dinas Kesehatan," tegasnya.
Coaching clinic ini diharapkan dapat menghasilkan pemetaan risiko yang komprehensif untuk setiap sasaran strategis Pemda yang tertuang dalam RPJMD, sehingga Pemprov Babel lebih siap dalam menghadapi tantangan dan mengawal pembangunan daerah.
RPJMD Risk Management CC: Mitigate Potential Target Constraints
Pangkal Pinang – Bappeda of Kepulauan Bangka Belitung Province held the Regional Government Risk Management Coaching Clinic in the Ketawai meeting room of the Bappeda office, on Monday (20/10/2025). Joko Triadhi, head of Bappeda of Kepulauan Bangka Belitung Province, inaugurated the clinic. Participants included officers from provincial government work units, and Acting Provincial Inspector Imam Kusnaidi served as the resource person.
In his opening remarks, Joko Triadhi stressed that preparing risk management documentation is mandatory and forms an integral part of the Regional Medium-Term Development Plan (RPJMD) 2025–2029, currently under review.
“We have an obligation to prepare a risk management document. Today, we are discussing how the planning document that we already prepared is implemented. We want to ensure, identify, and mitigate potential constraints if we cannot achieve the implementation of the plan,” Joko said.
The objective of the regional government’s risk management is to identify and mitigate risk potentials that can hinder the achievement of regional development targets. Joko Triadhi underlined the importance of identifying measures to anticipate in the risk management to ensure the nine development targets outlined in the 2025–2029 RPJMD could be achieved effectively and efficiently.
Meanwhile, Acting Inspector Imam Kusnaidi, in his presentation, explained the basic concept of risk as the possibility of an event that threatens the achievement of objectives. He distinguished between "risks," which are possibilities, and "problems," which are facts that have already occurred.
"When we talk about possibilities, they haven't happened yet. So, anything that hasn't happened yet is considered a risk," Imam explained.
Imam highlighted the importance of a systematic approach to risk management that encompasses the entire development management cycle, from planning and budgeting to implementation and supervision. He stated that every strategic regional government program, such as handling stunting, must be managed collaboratively with various relevant regional agencies to mitigate the risk of failure.
"All work units address regional government strategies in accordance with their respective duties and functions. We must handle stunting together, ladies and gentlemen, it’s not just by the Health Office," he emphasized.
This coaching clinic is expected to produce a comprehensive risk mapping for each regional government strategic target outlined in the RPJMD, so that the Provincial Government of Kepulauan Bangka Belitung is better prepared to face challenges and safeguard regional development.





