Dorong Aren Jadi Komoditas Alternatif

   

Pangkalpinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendorong aren untuk dapat menjadi komoditas alternatif. Menurut Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Fery Insani, aren merupakan salah satu komoditas yang dapat diupayakan masyarakat. Aren memiliki nilai ekonomis yang tinggi, yang dapat memberikan keuntungan finansial bila dikembangkan dan diproduksi dengan benar, serta berpeluang untuk dapat meningkatkan perekonomian daerah.

Hal tersebut dikatakan Fery Insani saat membuka Diseminasi Hasil Penelitian Lingkungan Hidup ‘Status dan Prospek Pemanfaatan Aren di Kepulauan Bangka Belitung” yang dikaitkan dengan program Kedaireka "Pembentukan Kampung Konservasi Aren dan Ekowisata di Pulau Bangka untuk Kesejahteraan Masyarakat dan Kemandirian Pangan Berbasis Komoditas Lokal", di ruang Video Conference Bappeda, Kamis (07/12/2023). Penelitian Kedaireka tersebut merupakan kerjasama antara tim peneliti dari Institut Pertanian Bogor dan Universitas Djuanda Bogor dengan mitra utama Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung beserta Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah dan Kabupaten Bangka Barat.

"Komoditas aren ini yang perlu kita dorong, kita berdayakan masyarakat. Pemasaran tidak masalah, selama ini. Toko oleh-oleh didominasi produk olahan ikan. Gula aren jadi salah satu yang dijual, dibuat dengan merek sendiri, kemasan dan kualitas yang baik, sehingga dapat bersaing dengan gula aren daerah lain," kata Fery Insani.

Pada kesempatan yang sama, Nurul Ichsan, Peneliti Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengatakan bahwa aren, yang biasanya masyarakat Bangka Belitung menyebutnya ‘kabung’, merupakan tanaman multiguna. Budidaya tanaman aren masih mengandalkan tanaman yang tumbuh alami yang semakin hari populasinya semakin sedikit, dimana pengetahuan budidaya yang terbatas dan regenerasi penyadap aren berjalan lambat. Aren sudah diusahakan turun temurun yang tercatat dalam dokumen Peta Belanda tahun 1930-an. Kebun tanaman aren disebut dalam peta Belanda tersebut dengan arentuin dan keberadaannya tersebar luas di Pulau Bangka dan Pulau Belitung.

"Tanaman aren memiliki potensi ekonomi yang cukup menarik, dimana para penyadap bisa mendapatkan penghasilan setiap hari. Selain itu, tanaman aren berpotensi menjadi tanaman konservasi untuk mencegah erosi lahan," kata Nurul Ichsan dalam paparannya bersama Dr. Slamet Wahyudi, Widyaiswara Madya BKPSDMD Babel. Hadir pula sebagai pemapar dalam diseminasi tersebut, Prof. Dr. Ervizal A.M. Zuhud, M.S. dan Prof. Dr. Nuri Andarwulan dari IPB University.

Kedua penelitian dilaksanakan dari bulan Agustus sampai dengan Desember 2023, dengan lokasi di Desa Jada Bahrin-Kabupaten Bangka, Desa Tuik-Kabupaten Bangka Barat, Desa Sungkap-Kabupaten Bangka Tengah, dan Desa Gunung Riting-Kabupaten Belitung. Penelitian "Pembentukan Kampung Konservasi Aren dan Ekowisata di Pulau Bangka untuk Kesejahteraan Masyarakat dan Kemandirian Pangan Berbasis Komoditas Lokal" mendapat pendanaan program Matching Fund Kedaireka Tahun Anggaran 2023, Batch 1 Gelombang 3 dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.


Encouraging Aren as an Alternative Commodity

Pangkalpinang - The Provincial Government of Kepulauan Bangka Belitung encourages aren (arenga pinnata/ sugar palm) to become an alternative commodity. According to the Head of Bappeda of Kepulauan Bangka Belitung Province, Fery Insani, aren is one of the commodities that the community can cultivate. Aren has high economic value, which can provide financial benefits if developed and produced properly, and has the opportunity to be able to improve the regional economy.

This was said by Fery Insani when opening the Dissemination of Environmental Research Results "Status and Prospects for Aren Plant in Kepulauan Bangka Belitung ", which was linked with the Kedaireka (business cooperation and innovation/ Indonesia Sovereignty in Invention) program "Establishment of Aren Conservation Villages and Ecotourism on Bangka Island for Community Welfare and Food Independence Based on Local Commodities" in the Bappeda Video Conference room, Thursday (07/12/2023). The Kedaireka research is a collaboration between a team of researchers from the Bogor Agricultural University and Djuanda University of Bogor with Bappeda of Kepulauan Bangka Belitung Province Bappeda and the governments of Central Bangka Regency and West Bangka Regency as the main partners.

"We need to encourage this aren commodity and empower the community. Marketing is not a problem so far. Processed fish products dominate gift shops. Palm sugar is one of the products sold there,  it [must] have brand, good packaging, and quality to compete with palm sugar from other regions," said Fery Insani.

On the same occasion, Nurul Ichsan, Researcher of Bappeda of Kepulauan Bangka Belitung Province, said that aren palm, which the people of Bangka Belitung usually call 'kabung', is a multipurpose plant. Aren cultivation still relies on natural cultivation while its population is decreasing.  Aren cultivation knowledge is limited, and regeneration of aren palm tappers is slow. Aren has been cultivated for generations, as recorded in the 1930s Dutch Map. Aren palm plantations are referred to in the Dutch map as arentuin, and they were widespread on Bangka Island and Belitung Island.

"The aren palm plant has quite interesting economic potential, where the tappers can get daily income. In addition, the palm tree is a potential conservation plant to prevent land erosion," said Nurul Ichsan in his presentation with Dr. Slamet Wahyudi, Associate Trainer of BKPSDMD of Kepulauan Bangka Belitung. Also presenting in the dissemination were Prof. Dr. Ervizal A.M. Zuhud, M.S. and Prof. Dr. Nuri Andarwulan from IPB University.

Both studies were conducted from August to December 2023  in Jada Bahrin Village - Bangka Regency, Tuik Village - West Bangka Regency, Sungkap Village - Central Bangka Regency, and Gunung Riting Village - Belitung Regency. The research "Establishment of Aren Conservation Village and Ecotourism on Bangka Island for Community Welfare and Food Independence Based on Local Commodities" received funding from the Kedaireka Matching Fund Program for the 2023 Fiscal Year, Batch 1 Period 3, from the Directorate General of Higher Education, Research, and Technology of the Ministry of Education, Culture, Research, and Technology.

Penulis: 
Rizky Fitrajaya
Translator: 
Adi MishaDi
Editor: 
Rusni Budiati
Sumber: 
Bappeda Prov. Kep. Babel