Komisi Yudisial Kunjungi Penerjemah Bappeda Babel

     

Pangkalpinang – Kepala Pusat Analisis dan Layanan Informasi Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial (KY) RI, Jumain, di dampingi pejabat fungsional penerjemah dan analis hukum berkunjung ke Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (05/12/2023). Kunjungan diterima langsung oleh Kepala Bappeda, Fery Insani, yang didampingi para penerjemah di Bappeda Babel.

Jumain menyampaikan bahwa kunjungan ini berkaitan dengan tugas dan fungsi institusinya dalam melakukan analisis dan penelitian serta pelayanan informasi. Saat ini, banyak sekali masyarakat maupun institusi, baik di dalam negeri maupun luar negeri, yang mengakses publikasi yang dikeluarkan oleh KY sehingga lembaga ini juga memiliki pejabat fungsional penerjemah, di samping berbagai jabatan fungsional lainnya.

Yuni Yulianita, penerjemah muda KY menyampaikan bahwa saat ini di KY hanya terdapat dua orang penerjemah ahli muda, sementara penerjemahan meliputi penerjemahan dan penyuntingan yang seharusnya dilakukan pula oleh penerjemah pada jenjang pertama dan madya. Oleh karena itu, KY menganggap penting untuk berdiskusi dengan Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang juga memiliki tugas dan fungsi penelitian dan pengembangan (litbang) dan diseminasi hasil-hasil penelitian, serta telah memiliki pejabat fungsional penerjemah pada jenjang madya.

Kepala Bappeda, Fery Insani, menyampaikan bahwa kehadiran penerjemah di Bappeda adalah karena Bidang Litbang, salah satu bidang di Bappeda, melaksanakan fungsi-fungsi riset dan inovasi di daerah. Bappeda juga menjadi institusi yang sering dikunjungi peneliti dan mahasiswa asing, serta biasanya terlibat langsung maupun tidak langsung dalam kerja sama internasional yang berlokasi di Bangka Belitung.

Dr. Yan Megawandi, Widyaiswara Utama Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang turut mendampingi Kepala Bappeda, menyampaikan pengalaman-pengalamannya bekerja bersama penerjemah madya Bappeda dalam penulisan-penulisan karya tulis ilmiah. Dia juga menyampaikan pengalamannya bekerja bersama penerjemah/jurubahasa saat masih menjabat sebagai kepala di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, di Bappeda, dan sebagai sekretaris daerah.

Pejabat Fungsional Penerjemah Madya Bappeda, Rusni Budiati, menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung saat ini memiliki satu orang penerjemah ahli madya dan delapan orang penerjemah ahli muda yang tersebar di beberapa perangkat daerah, yang juga menjadi anggota Ikatan Penerjemah Pemerintah Indonesia (IPPI) dengan instansi pembina pada Sekretariat Kabinet RI. Bappeda saat ini juga memiliki satu orang penerjemah ahli muda. Di samping itu, ada satu orang penerjemah ahli muda di Kabupaten Bangka Barat, satu orang penerjemah pertama di Kabupaten Bangka Selatan, dan tiga orang penerjemah pertama di Pemerintah Kota Pangkalpinang yang baru dilantik bulan November lalu.

Rusni menyampaikan memang tugas penerjemahan karya tulis ilmiah (KTI) yang berada dalam jangkauan tugas penerjemah madya memiliki kesulitan sendiri karena sering harus berhadapan dengan topik spesifik di luar keilmuan penerjemah. Sebelum maupun selama melakukan penerjemahan KTI, penerjemah harus melakukan konfirmasi berulang-ulang untuk dapat memahami dan mengkonfirmasi makna yang disampaikan peneliti dalam tulisannya. Saat ini beberapa peneliti di Bappeda ada yang telah memiliki publikasi ilmiah terindeks global, bahkan ada yang telah memiliki beberapa publikasi terindeks Q1.

“Mungkin salah satu kekurangan saya sebagai penerjemah adalah tidak memiliki latar belakang pendidikan bahasa, namun saya beruntung karena berlatar pendidikan perencanaan wilayah dan sebelumnya bertugas di jalur struktural di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, sehingga cukup familiar dengan istilah-istilah yang digunakan di Bappeda,” terang Rusni. Analis hukum KY yang turut hadir, juga menyampaikan bahwa penerjemahan naskah hukum merupakan hal yang tidak mudah karena bahkan antara para ahli hukum sendiri dapat memahami satu kalimat dalam teks hukum dengan cara yang berbeda-beda, sehingga penerjemahan ke bahasa lain tentu menghadapi tantangan yang lebih besar lagi.

Hadir pula dalam pertemuan tersebut penerjemah muda Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Babel serta para penerjemah pertama Pemerintah Kota Pangkalpinang. Diskusi juga membahas kesulitan-kesulitan yang umumnya dihadapi penerjemah ketika bertugas sebagai juru bahasa.

“Biasanya, permintaan menjurubahasa dilakukan secara mendadak. Bahkan saya pernah diminta menjurubahasakan sebuah pertemuan, sesaat sebelum acara dimulai. Untungnya saat itu saya sangat familiar dengan topik dan istilah yang digunakan. Di lain waktu saya pernah mendadak diminta menjurubahasakan rapat dengan investor di industri kimia, yang saya bahkan tidak memahaminya ketika diucapkan dalam bahasa Indonesia, padahal sangat penting bagi kita para juru bahasa untuk mempelajari topik dan istilah yang akan digunakan, dan itu tentu memerlukan waktu beberapa hari sebelumnya” cerita Rusni, yang juga sering dialami oleh para penerjemah lainnya.


Judicial Commission Visits Translators in Bappeda Babel

Pangkalpinang - Head of the Center for Analysis and Information Services of the Secretariat General of the Judicial Commission (KY) of the Republic of Indonesia, Jumain, accompanied by a functional translator and a legal analyst, visited Bappeda of Kepulauan Bangka Belitung Province, Tuesday (05/12/2023). The visit was received directly by the Head of Bappeda, Fery Insani, accompanied by translators of Bappeda Babel

Jumain said that this visit was related to the tasks and functions of his institution in conducting analysis and research as well as information services. Recently, many people and institutions, domestically and abroad, have accessed publications issued by KY so that this institution also has functional translator officials in addition to various other functional positions.

Yuni Yulianita, a KY junior translator, said that while translation includes translating and editing, which should be carried out by first and associate translators, KY currently only has two junior translators. Therefore, KY considers it important to discuss with Bappeda of Kepulauan Bangka Belitung Province, which also has the tasks and functions of research and development (R&D) and dissemination of research results, and as it has an associate translator.

The Head of Bappeda, Fery Insani, said Bappeda has translators since the R&D Division, one of the departments in Bappeda, carries out research and innovation functions in the region. Foreign researchers and students visit Bappeda for their research, and Bappeda is usually directly or indirectly involved in international cooperations in Bangka Belitung area.

Dr. Yan Megawandi, Prime Trainer of the Kepulauan Bangka Belitung Provincial Government, who also accompanied the Head of Bappeda, conveyed his experiences working with Bappeda's associate translator in writing academic papers. He also shared his experience working with translators/interpreters when he was the head of the Culture and Tourism Office,  of Bappeda, and as provincial executive secretary.

The Associate Translator/ Interpreter of Bappeda, Rusni Budiati, said that the Kepulauan Bangka Belitung Provincial Government currently has one associate translator and eight junior translators spread across several regional units, who are also members of the Indonesian Government Interpreter/Translator Association (IPPI), with the fostering agency at the Indonesian Cabinet Secretariat. Bappeda currently also has one junior translator. In addition, there is one junior translator in the West Bangka Regency, one first translator in the South Bangka Regency, and three newly appointed first translators in the Pangkalpinang Municipal Government last November.

Rusni said that translating academic papers (KTI), which falls within the range of associate translator tasks, has challenges because it often has to deal with specific topics outside the translator's knowledge. Before and during the translation of KTI, the translator must confirm the author repeatedly to understand and confirm the meaning conveyed in the writing. Some researchers in Bappeda have had global indexed scientific publications, and one researcher has even had several Q1 indexed publications.

"Perhaps one of my shortcomings as a translator is that I never have a formal education background in language, but I am fortunate because I studied regional planning and previously served in the structural posts at the Culture and Tourism Office, so I am quite familiar with the terms used at Bappeda," Rusni explained. The KY’s legal analysts also said that translating legal texts is not easy because even legal experts may understand one sentence in a legal text differently, and translating it into other languages must be more challenging.

Present at the meeting were also one junior translator of the Provincial Culture and Tourism Office and the first translators of the Pangkalpinang Municipal Government. The discussion also addressed the difficulties translators generally face when serving as interpreters.

"Usually, requests to interpret are made suddenly. I was once asked to interpret for a meeting right before the meeting started. Fortunately, I was very familiar with the topic and the terms used. Another time I was suddenly asked to interpret a meeting with investors in the chemical industry, which I could not even understand when spoken in Indonesian, while interpreters need to learn the topics and terms to use, and it certainly takes several days beforehand to prepare," Rusni said, which is also often experienced by other interpreters.

Penulis: 
Rusni B
Translator: 
Adi MishaDi
Editor: 
Rusni Budiati
Sumber: 
Bappeda Babel