Navigasi

Bangka Belitung Hubungkan Potensi Daerah dengan Pembiayaan Berkelanjutan

Penulis

Rizky Fitrajaya

Tanggal Terbit

9 September 2026

Kategori

Berita

Bangka Belitung Hubungkan Potensi Daerah dengan Pembiayaan Berkelanjutan  - 1
Bangka Belitung Hubungkan Potensi Daerah dengan Pembiayaan Berkelanjutan  - 2
Bangka Belitung Hubungkan Potensi Daerah dengan Pembiayaan Berkelanjutan  - 3
Bangka Belitung Hubungkan Potensi Daerah dengan Pembiayaan Berkelanjutan  - 4
Bangka Belitung Hubungkan Potensi Daerah dengan Pembiayaan Berkelanjutan  - 5
1 / 5

Pangkal Pinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus mendorong penguatan ekonomi berbasis pelestarian lingkungan melalui integrasi potensi daerah ke dalam skema pembiayaan berkelanjutan. Langkah ini diarahkan untuk mempertemukan komoditas lokal dan kearifan masyarakat dengan jaringan investasi hijau yang memberikan dampak positif bagi ekosistem.

Hal tersebut ditegaskan Kepala Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Joko Triadhi, saat Focus Group Discussion (FGD) Strategi Investasi Berdampak di Pangkalpinang, Rabu (9/9/2026), yang diselenggarakan bersama Konsorsium Koalisi Ekonomi Membumi (KEM), Katalys Partners, dan Yayasan KEHATI dalam kerangka proyek KEHATI–SOLUSI. Joko Triadhi menekankan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati tidak boleh lagi dipandang terpisah dari perencanaan pembangunan daerah.

"Sekali lagi kami ingin sampaikan bahwa menjaga keanekaragaman hayati ini bukan hanya sekadar menjadi agenda konservasi, tapi merupakan upaya kita untuk menjaga keberlanjutan pembangunan di daerah," ujar Joko Triadhi.

Sebagai wilayah kepulauan, keterkaitan antara ekosistem darat, pesisir, dan laut sangat krusial. Ketergantungan terhadap sektor ekstraktif seperti pertambangan timah dinilai telah memicu tekanan ekologis berupa degradasi habitat, sedimentasi, hingga pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, Pemprov  Babel mengintegrasikan target Indeks Pengelolaan Keanekaragaman Hayati serta arah ekonomi hijau dan biru ke dalam dokumen RPJMD Bangka Belitung 2025–2029.

Di tengah tekanan pembangunan tersebut, Joko Triadhi menyoroti pentingnya mempertahankan kearifan lokal seperti lanskap kelekak, sistem agroforestry tradisional masyarakat Bangka Belitung, yang menyimpan keragaman spesies dan fungsi sosial.

"Jadi, kelekak itu bukan hanya sekadar hamparan kemudian ada tanaman, tumbuhan buah, tapi juga bagi kita kelekak itu adalah sebuah bentang alam, landscape, dengan keanekaragaman spesies yang juga di dalamnya menyediakan sumber pangan bagi kehidupan," tuturnya.

Selain kelekak, Bangka Belitung telah mengembangkan rantai nilai komoditas berlabel Indikasi Geografis (IG), seperti lada putih Muntok, nanas Bikang, madu Pelawan, serta rencana pengajuan tenun Cual. Daerah ini juga membuktikan keberhasilan pelaku usaha lokal yang menembus pasar ekspor melalui pemanfaatan produk alami daun ketapang.

"Jadi intinya itu, kami coba menghubungkan potensi yang kita miliki dengan skema-skema pembiayaan yang tersedia," tegas Joko Triadhi.

Melalui pemetaan potensi dan peningkatan kesiapan investasi (investment readiness), Pemprov Bangka Belitung berharap dapat menjembatani kebutuhan pembiayaan bagi para pelaku usaha di daerah. Sinergi antarpemangku kepentingan mulai dari pemerintah daerah, sektor swasta, akademisi, hingga komunitas diharapkan dapat merealisasikan investasi hijau yang tidak hanya menjaga daya dukung lingkungan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Bangka Belitung.

________________________________________________________________________________________________________

Bangka Belitung Connects Regional Potential with Sustainable Finance


Pangkal Pinang – The Provincial Government of Kepulauan Bangka Belitung continues to foster an environment-conservation-based economy through the integration of regional potential into sustainable financing schemes. This initiative is directed to connect local commodities and community wisdom with green investment networks, generating positive impacts on the ecosystem.


The Head of Bappeda of Kepulauan Bangka Belitung, Joko Triadhi, highlighted this point during the Focus Group Discussion (FGD) on Impactful Investment Strategy in Pangkal Pinang on Wednesday (09/09/2026), conducted by the Consortium of Earth-Centered Economy Coalition (KEM), Katalys Partners, and KEHATI Foundation, under the KEHATI-SOLUSI project framework. Joko Triadhi pointed out that biodiversity protection must no longer be viewed in isolation from regional development planning.


“We want to reiterate that conserving biodiversity is not merely a conservation agenda, but it is our effort to guard the development sustainability in our region,” Joko Triadhi said.


As an archipelagic region, the interlinkages among terrestrial, coastal, and marine ecosystems are crucial. Reliance on extractive sectors, such as tin mining, is considered to have triggered ecological pressures ranging from habitat degradation and sedimentation to environmental pollution. Consequently, the Bangka Belitung Provincial Government has integrated Biodiversity Management Index targets along with green and blue economy strategies into the 2025–2029 Bangka Belitung Medium-Term Regional Development Plan (RPJMD). 


Amidst development pressures, Joko Triadhi underlined the importance to protect local wisdoms like kelekak lanskap, the traditional agroforestry system of Bangka Belitung people keeping the various species and its social function.


“So, kelekak is not merely a plot of land having vegetation and fruit plants, but for us it is also an ecosystem, a landscape rich in variety of species that provide food sources for life,” he said.


“In addition to kelekak, Bangka Belitung has developed commodity value chains labeled with Geographic Indication (IG), like Muntok White Pepper, Bikang pineapple, Pelawan honey, and next we have planned to apply the IG for Cual woven cloth. This region has also demonstrated the success of local businesses in penetrating the international market by exporting natural Ketapang [ terminalia katappa, a type of tropical/ sea almond–trans.ed.] leaf products.


“Basically, we are trying to link our existing potential with available financing schemes," Joko Triadhi emphasized.


By mapping the potential and enhancing investment readiness, the Bangka Belitung Provincial Government hopes to bridge the financing gap for local businesses. Synergy among stakeholders, ranging from local government and the private sector to academics and the communities, is expected to create green investments that not only preserve environmental carrying capacity but also deliver sustainable economic benefits to the people of Bangka Belitung.

[Transl.: Rusni B.}

Sumber

Fotografer

Editor

Rusni Budiati