Pangkalpinang – Indonesia memiliki potensi pelaksanaan perdagangan karbon dengan memanfaatkan blue carbon yang sangat besar, yaitu 3,4 Giga ton atau setara dengan 17 persen dari cadangan blue carbon seluruh dunia. Blue carbon merupakan cadangan emisi karbon yang diserap, disimpan, dan dilepaskan oleh ekosistem pesisir dan laut.

Dr. Kastana Sapanli dari Institut Pertanian Bogor mengatakan, ekosistem dalam blue carbon, yakni pada tanaman mangrove, memiliki potensi nilai ekonomi lebih dari US$90.000 per hektare. Hal tersebut dikatakannya pada saat FGD Aplikasi Blue Carbon Trading sebagai Upaya Konservasi Mangrove di Pulau Bangka Melalui Pendekatan Social – Ecological Systems (SES) Berbasis Model Spasial Dinamik, di ruang rapat Pulau Ketawai, Rabu (20/09/2023).

Penelitian aplikasi blue carbon trading ini merupakan penelitian  Institut Pertanian Bogor berkolaborasi dengan Universitas Bangka Belitung dengan mitra utama Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kastana Sapanli menambahkan, nilai tersebut bukan hanya dari kemampuan tanaman mangrove dalam menyerap serta menyimpan karbon, tetapi juga jasa lingkungan yang dapat diciptakan, misalnya sebagai upaya pencegahan abrasi, peningkatan industri perikanan, dan ekowisata.

"Pihak OJK, baru-baru ini sudah mengeluarkan peraturan OJK mengenai pedagangan karbon, dimana nantinya karbon ini dapat diperdagangkan seperti perdagangan saham yang ada di bursa," kata Kastana Sapanali. Namun, Kastana Sapanali mengingatkan bahwa sebelumnya harus diketahui terlebih dahulu potensi dari blue carbon yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pada kesempatan yang sama, Irma Akhrianti dari Universitas Bangka Belitung mengatakan bahwa luasan ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 75 persen total luasan mangrove di Asia Tenggara, dimana ekosistem mangrove merupakan salah satu parameter ekosistem blue carbon. Irma Akhrianti dalam FGD ini memaparkan penelitiannya di wilayah Bangka Barat. 

Penelitian tersebut telah melaksanakan pengambilan sampel tahap pertama pada 13 sampai dengan 16 Juli 2023 di daerah Sungai Menduyung yaitu di Desa Air Menduyung pada Dusun Tanjung Punai, Belo Laut, dan Tanjung Niur. Taman Wisata Air (TWA) Jering Menduyung di Kabupaten Bangka Barat mempunyai luasan hutan mangrove primer sekitar 1.209,7 ha, Dusun Belo Laut memiliki luasan mangrove sebesar 84,85 ha, sedangkan Dusun Tanjung Punai memiliki ekosistem mangrove seluas 1.988,74 ha.


Bappeda Babel Holds Blue Carbon Trading Application FGD

Pangkalpinang – Indonesia has the potential for carbon trading as this country stores 3.4 Giga tonnes of carbon, equivalent to 17 percent of the world’s blue carbon reserves. Blue carbon is carbon emission reserves absorbed, stored, and released by marine ecosystems.

Dr. Kastana Sapanli from IPB University explained that mangrove, as part of the blue carbon ecosystem, potentially has an economic value of more than US$ 90,000 per hectare. He mentioned this in the Focus Group Discussion (FGD) on the Blue Carbon Trading Application as an Effort to Conserve Mangroves in Bangka Island by Deploying a Social-Ecological System (SES) Approach Based on a Spatial-Dynamic Model, in the Pulau Ketawai meeting room of Bappeda office, Wednesday (20/09/2023).

This blue carbon trading application research is a collaboration between IPB University and Bangka Belitung University, with Bappeda of Kepulauan Bangka Beitung Province as the focal partner. Sapanli added that the value of blue carbon does not merely originate from the mangrove plants capability to store carbon, but also from the environmental services they create, for instance as the abrasion prevention efforts, fishery industry increase, and ecotourism.

“Recently, the Financial Services Authority (OJK) issued a regulation on carbon trading, which enables carbon to trade in the future like stocks in the stock market,” said Sapanli. However, he also advised that it is necessary to identify the blue carbon potential in Kepulauan Bangka Belitung in advance. 

On the same occasion, Irma Akhrianti from Bangka Belitung University presented her research in Bangka Belitung and mentioned that the area of the mangrove ecosystems in Indonesia is around 75 percent of the total mangrove area in Southeast Asia. The mangrove ecosystem is one of the parameters of the blue carbon ecosystem.

Her research has conducted the first sampling stage from 13 – 16 July 2023 in the Menduyung River area, which includes Tanjung Punai, Belo Laut, and Tanjung Niur in Air Menduyung Village. She shows that Jering Menduyung Water Tourism Park (TWA) in the West Bangka Regency has around 1,209.7 ha of primary mangrove forest area, Belo Laut subvillage has about 84.85 ha of mangrove area, and Tanjung Punai subvillage has around 1,988.74 ha of mangrove ecosystem.