Pangkalpinang, Badan Perencanaan Pembangunan dan Penelitian Pengembangan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Bappeda Kep. Babel) menjadi salah satu dari 71 penerima pendanaan Prototipe Teknologi Untuk Masyarakat tahun 2018. Sebagai pengaju proposal, Wahyudi Himawan yang juga anggota dari Dewan Riset Daerah Provinsi Kep. Babel, dengan judul proposal "Teknologi Pengolahan Lada Putih (muntok white pepper) Pasca Panen (Perendaman, Pengupasan dan Penjemuran) Menuju Kualitas Eksport di Kepulauan Bangka Belitung,".
Kepala Subbid Pembangunan Inovasi dan Teknologi Bappeda Kep. Babel Adhari, membenarkan Bappeda Kep. Babel menjadi salah satu penerima pendanaan Prototipe Teknologi Untuk Masyarakat tahun 2018, sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Kemenristekdikti Nomor 1724/E3.3/PM/2018.
"Untuk Babel, bukan hanya Bappeda, ada Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung yang menerima pendanaan Prototipe Teknologi Untuk Masyarakat tahun 2018," kata Adhari ditemui diruang kerjanya di Kantor Bappeda Kep. Babel, Rabu (23/05).
Menurut Adhari, topik riset yang didanai harus sesuai dengan tujuh bidang yang menjadi fokus riset nasional, yakni teknologi pangan, energi, kesehatan dan obat, transportasi,Teknologi Informasi dan Komunikasi, hankam dan teknologi material maju.
"Hasil pembuatan protipe yang akan langsung diimplementasikan melalui anggaran Kemenristek Dikti, diharapkan mampu menghasilkan karya/contoh nyata dan dapat dikembangkan secara massal oleh masyarakat maupun pihak terkait," lanjut Adhari.
Keberhasilan menembus pendanaan Prototipe Teknologi Untuk Masyarakat tahun 2018, diharapkan Adhari dapat mendorong peneliti yang ada di Bappeda Kep. Babel untuk mengikuti kompetisi proposal tingkat nasional sesuai dengan kemampuan SDM peneliti. Bappeda Kep. Babel sendiri memiliki peneliti di bidang lingkungan, pertambangan, kelautan dan pariwista.
"Kemampuan Peneliti yang ada di Bappeda akan ditingkatkan dengan cara mengikuti seminar-seminar akademik dan acara Kelitbangan, selain itu peneliti diharapkan dapat mengkritisi suatu kajian-kajian yang melibatkan mereka dalam lingkup daerah," kata Adhari.
hasil pembuatan protipe yang akan langsung diimplementasikan melalui anggaran Kemenristek Dikti agar mampu menghasilkan karya/contoh nyata dan dikembangkan secara massal oleh masyarakat maupun pihak terkait.
Topik riset yang didanai harus sesuai tujuh bidang fokus riset nasional yakni teknologi pangan, kesehatan dan obat, energi, transportasi, teknologi infokom, hankam dan teknologi material maju.
Terkait dengan proposal yang diajukan, Wahyudi Himawan pada saat dihubungi via Whatsapp menjelaskan Indonesia pernah dikenal sebagai salah satu negara penghasil utama lada serta mempunyai peranan yang penting dalam perdagangan lada dunia. Untuk Bangka Belitung, sampai dengan akhir tahun 90an, menyuplai sekitar 60 sampai 80% lada putih di pasar dunia, namun dalam satu dekade terakhir, hanya mampu menyuplai 15 sampai 20% lada putih untuk kebutuhan di pasar dunia.
"Menurunnya produksi lada di Bangka Belitung disinyalir karena berkurangnya luas lahan untuk budidaya lada, serta menurunnya kualitas lada," kata Wahyudi Himawan.
Menurut Wahyudi Himawan, dalam penanganan komoditi lada, banyak rekayasa teknologi yang terabaikan, sehingga berpengaruh terhadap kualitas lada, dari mulai budidaya sampai dengan penanganan pascapanen, sehingga sangat berpengaruh terhadap sistem pasar lada itu sendiri.
"Sebagai contoh penanganan budidaya yang tanpa mengikuti budidaya yang benar, yang menyebabkan tanaman lada terkena penyakit dan sulit untuk ditanggulangi," Wahyudi Himawan.
Dalam penanganan pascapanen lada seperti perendaman biji lada, menurut Wahyudi Himawan, berdasarkan fakta di lapangan sering direndam pada sungai yang tercemar, begitupun dengan penjemuran lada itu sendiri rentan terhadap tercemar debu dan polutan lainnya. Hal tersebut harus di kelola dengan baik sehingga produk yang dihasilkan berkualitas dan akan meningkatkan nilai jual.
Dijelaskan Wahyudi Himawan, teknologi yang akan diterapkan ke masyarakat berupa perendaman, pengupasan dan penjemuran. Dengan penerapan teknologi pada tahapan pasca panen, diharapkan dapat meningkatkan kualitas mutu lada.
"Mutu sangat mempengaruhi harga lada, jika mutu lada naik, diharapkan dapat menaikkan harga lada," kata Wahyudi Himawan.