Pangkalan Baru, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, bonus demografi merupakan kesempatan emas bagi Bangsa Indonesia untuk melompat menjadi negara maju. Hal tersebut dikatakannya pada saat Sarasehan Nasional Pembangunan Berwawasan Kependudukan di Ballroom, RM Gale-Gale, Jumat, (13/09).
Periode 2020-2024, merupakan puncak bonus demografi, dan juga penduduk Indonesia memasuki penuaaan. Diperkirakan pada periode tersebut, usia produktif penduduk Indonesia mencapai 185-192 Juta jiwa dan merupakan yang paling banyak di wilayah Asia Tenggara.
"Kalau kita tidak dapat memanfaatkan bonus demografi, ini berarti, mohon maaf, Indonesia tidak akan pernah menjadi negara maju, karena bonus demografi dalam pengertian penduduk usia muda tidak akan datang dua kali, karena begitu bonus demografi lewat, Indonesia sudah masuk dalam aging population," ungkapnya.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan cara untuk memanfaatkan bonus demografi. Namun menurutnya, perlu adanya kebijakan kependudukan agar ageing population tidak datang terlalu cepat, hal ini karena Indonesia masih membutuhkan jumlah penduduk selain kualitas, sehingga perlu dijaga keseimbangan jumlah penduduk.
Sebagai tambahan informasi, ageing population atau penuaan penduduk menurut United Nation adalah fenomena yang terjadi ketika umur median penduduk dari suatu wilayah atau negara mengalami peningkatan yang disebabkan oleh bertambahnya tingkat harapan hidup atau menurunnya tingkat fertilitas. Sedangkan Total Fertility Rate (TFR) adalah banyak anak rata-rata yang akan dimiliki seorang perempuan pada akhir masa reproduksinya.
"Saran kami dari Perencana di Bappenas adalah, Total Fertility Rate-nya kita jaga (sampai) tahun 2045 antara 2 sampai 2,1 dan kita coba memanfaatkan bonus demografi kedua, yaitu bonus demografi dengan penekanan pada produktivitas dan investasi yang dilakukan oleh kelompok usia lanjut," ungkapnya.
Menyikapi pribahasa banyak anak banyak rezeki, menurut Bambang Brodjonegoro, bila melihat TFR tidak lagi, namun masih terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Ditambahkan olehnya, pada daerah yang TFR agak tinggi, angka Stunting juga tinggi, untuk itu, menurutnya jumlah anak harus dikendalikan, sehingga Stunting dapat diturunkan.
"Kalau saya sarankan, dua anak cukupkan sekarang kampanyenya, mungkin di modifikasi menjadi dua anak ideal, artinya supaya tetep orang berkeinginan untuk menikah dan punya anak, kalau bisa lebih dari satu ya dua, kalau bisa jangan lebih dari dua," katanya.
Hadir pada Sarasehan Nasional Pembangunan Berwawasan Kependudukan di Ballroom di antaranya, Sekretaris Jenderal Kemendagri Hari Prabowo, Kepala BKKBN Pusat Hasto Wardoyo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Gubernur Erzaldi Rosman, Peneliti Senior R Siti Zuhro dan pakar komunikasi Effendi Gazali sebagai moderator.