Pangkalpinang. Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melaksanakan diskusi kelompok terpumpun dalam Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Bidang Ekonomi dan Pembangunan Tahun 2021 yang dilaksanakan secara hybrid, Selasa (07/12). Diskusi dibuka dan dipimpin oleh Rusdi, S.T., M.T., Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang mewakili Kepala Bappeda pada kegiatan tersebut.
Dalam diskusi tersebut, tim peneliti yang terdiri dari peneliti Bappeda yaitu Yeyen Mardyani, S.Pi., M.Si., dan peneliti dari Universitas Bangka Belitung, Dr. Endang Bidayani, S.Pi, M.Si., Kurniawan, S.Pi., M.Si., Siti Aisyah, S.Pi., M.Si., dan Fahri Setiawan, S.P., M.Si., mempresentasikan laporan hasil penelitian “Penilaian Ekonomi Wilayah Pesisir dan Kelangsungan Perikanan Skala Kecil pada Perairan Timur Kabupaten Bangka”.
Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh terjadinya konflik spasial dalam alokasi pemanfaatan ruang di wilayah pesisir timur di Kabupaten Bangka dan perlu dilakukannya valuasi ekonomi yang dapat membantu kebijakan publik dalam penentuan kompensasi yang terjadi pada sumber daya alam dan lingkungan yang hilang atau mengalami kerusakan akibat penggunaan multi purpose atau penggunaan sumber daya alam yang menimbulkan eksternalitas.
Lokus penelitian dilimitasi pada perairan timur Kabupaten Bangka pada 3 desa berdasarkan sentra nelayan kecil yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu di Desa Deniang, Desa Rebo dan Desa Matras di Kabupaten Bangka.
Diskusi tersebut dihadiri oleh perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bangka, Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, para kepala sub-bidang di Bidang Ekonomi dan SDA serta Bidang Litbang Bappeda provinsi, dan para peneliti serta para pejabat fungsional di Bappeda provinsi.
Fitriansyah, Analis Kebijakan Madya Bappeda, menyampaikan bahwa penelitian ini dapat menjadi acuan bagi dokumen perencanaan dan pengambil kebijakan sehingga dapat disusun kebijakan yang pro terhadap masyarakat nelayan kecil yang juga termasuk dalam kelompok marjinal. Sementara itu, Yuliarsyah, Kepala Seksi Tata Kelola Destinasi Disbudparpora Prov. Babel menyampaikan bahwa masyarakat tidak mendapatkan informasi alokasi ruang pada RZWP3K yang potensial menjadi konflik sosial, terutama dengan marak terjadinya penambangan illegal di laut yang beroperasi di zona-zona pariwisata, seperti yang terjadi di kawasan Pulau Putri dan Pantai Matras. Menurutnya, ini akan berdampak buruk terhadap kawasan peruntukan pariwisata yang hanya dialokasikan sekitar 3% pada RZWP3K, sementara pariwisata Babel sedang bersiap menghadapi travel revenge apabila pandemi dapat terkendali.
Peneliti Pertama Bidang Lingkungan Bappeda, Nurul Ichsan menyampaikan bahwa akan menarik jika penelitian ini dilanjutkan untuk melihat rantai penawaran perikanan skala kecil untuk memetakan aktor-aktor yang terlibat dan mendapatkan keuntungan dari kegiatan perikanan skala kecil di Bangka Belitung. Sementara Sulista, Peneliti Muda Bidang Ekonomi SDA Bappeda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung meyampaikan bahwa valuasi nilai ekonomi yang diperoleh dari hasil penelitian dapat menjadi rujukan bagi penilaian indikator target produksi perikanan tangkap tahun berikutnya serta penilaian makro kontribusi sektor perikanan tangkap terhadap PDRB sebagai bahan penyusunan dokumen perencanaan selanjutnya. Selain itu, ia juga menanyakan apakah valuasi ekonomi yang dilakukan menggambarkan keragaan perikanan skala kecil di seluruh Pulau Bangka.
Dalam penutupan diskusi, Rusdi menyampaikan bahwa penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan dokumen rencana pembangunan dan harus dilanjutkan dengan riset lebih lanjut, terutama untuk membantu mengangkat kesejahteraan masyarakat nelayan kecil di Kepulauan Bangka Belitung. Diseminasi hasil penelitian ini akan dilaksanakan dalam webinar yang direncanakan pada 14 Desember 2021.
FGD on Sustainability of Small-Scale Fishery in East Bangka
Pangkalpinang. Bappeda of the Kepulauan Bangka Belitung held a hybrid-focused group discussion for the 2021 Research and Development Activities in the Economic and Development Sector, Tuesday (07/12). The discussion was opened and led by Rusdi, S.T., M.T., Head of the Research and Development Division of Bappeda the Kepulauan Bangka Belitung Province, on behalf of the Head of Bappeda.
In the discussion, the research team consisting of Bappeda researcher: Yeyen Mardyani, S.Pi., M.Sc., and researchers from Bangka Belitung University: Dr. Endang Bidayani, S.Pi, M.Sc., Kurniawan, S.Pi., M.Si., Siti Aisyah, S.Pi., M.Si., and Fahri Setiawan, SP, M.Sc., presented the results of the research on "Economic Assessment of Coastal Areas and the Sustainability of Small-Scale Fisheries in Eastern Waters of Bangka Regency".
The background of the research is the occurrence of spatial conflicts in the utilization of zoning allocation in the eastern coastal area in Bangka Regency, and the need for an economic valuation to provide inputs for public policy in determining the compensation for the lost and damaged natural and environmental resources due to multi-purpose use, or the rise of externality due to the use of natural resources.
The research locus was limited to the eastern waters of Bangka Regency in 3 villages based on small fishing centers in the Province of the Bangka Belitung Islands, namely Deniang Village, Rebo Village, and Matras Village in Bangka Regency.
The discussion was attended by representatives of the Marine Affairs and Fisheries Office of the Kepulauan Bangka Belitung Province, the Marine Affairs and Fisheries Office of Bangka Regency, the Culture, Tourism, Youth and Sports Office (Disbudparpora) of the Kepulauan Bangka Belitung, the heads of sub-sectors in the Economic and Natural Resources Division and in the Research and Development Division of the provincial Bappeda, as well as researchers and other functional officials in the provincial Bappeda.
Fitriansyah, an Associate Policy Analyst in Bappeda, said that this research can be used as a reference for planning documents and policymakers so that policies can be formulated to help small fishing communities that also belong to marginal groups. Meanwhile, Yuliarsyah, Head of Destination Governance Section of Disbudparpora said that the local people did not receive information on the spatial allocation in the Coastal and Small Island Zoning Plan (RZWP3K), which creates social conflict potentials, especially with the rampant off-shore illegal mining operating in tourism zones, just like what happened recently in the Putri Island and Matras Beach areas. According to him, this will harm the designated tourism area, which is only allocated around 3% in the RZWP3K, while Bangka Belitung tourism is preparing the travel revenge if the pandemic can be controlled.
Nurul Ichsan, the First Researcher of Bappeda for Environment said that it would be interesting if this research is extended to look at the supply-chains on small-scale fisheries to map the actors involved and the benefit drawn from small-scale fisheries activities in Bangka Belitung. Meanwhile, Sulista, Junior Researcher of Bappeda for Natural Resource Economy, said that the economic value valuation obtained from the research results can be used as a reference for the assessment of indicators for capture fisheries production targets for the following year, as well as a macro assessment of the contribution of the capture fisheries sector to GRDP as feedback for the preparation of further planning documents. In addition, she also asked whether the economic valuation carried out reflects the performance of small-scale fisheries throughout Bangka Island.
When closing the discussion, Rusdi said that this research is expected to provide input in the preparation of the development plan documents, and should be continued with further research, especially to help raise the welfare of small fishing communities in the Bangka Belitung Islands. Dissemination of the results of this research will be carried out in a webinar on December 14th, 2021.
