Air Gegas, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Republik Indonesia melakukan Fact Finding terhadap usulan implementasi Klaster Inovasi berbasis produk unggulan daerah Lada Putih di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Pada saat Fact Finding, Tim mengunjungi Agro Technopark Komoditas Lada Air Gegas, Gedung pasca panen Bumdes "Mitra Lada Bersatu" serta melakukan Focus Group Discussion di Kantor Kecamatan Air Gegas.
Kasie Wahana Inovasi, Kemenristekdikti, Nuhansyah Harahap mengatakan, Fact Finding bertujuan untuk mengkonfirmasi dan menggali berbagai informasi yang detail mengenai usulan implementasi Klaster Inovasi berbasis produk unggulan daerah Lada Putih di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
"Program Klaster Inovasi ini sudah dimulai dari tahun 2017 terhadap 6 produk unggulan daerah di Indonesia, di tahun 2018 ada 10 produk Klaster, salah satunya Lada di Bangka Belitung," kata Nuhansyah Harahap pada saat FGD di Kantor Camat Air Gegas, Senin (15/04).
Pada tahun ketiga, menurut Nuhansyah Harahap, kegiatan akan difokuskan untuk menindaklanjuti Klaster yang sudah ada pada tahun 2017 dan 2018.
"Tahun ini ada 16 Klaster yang kami review, setelah dilakukan grading ada 8 klaster yang masuk dalam Top Grading, salah satunya Lada," ungkapnya.
Nuhansyah Harahap mengharapkan Universitas yang ada di daerah dapat ikut serta dalam pengembangan Klaster Inovasi.
"Universitas di daerah diharapkan dapat mengimplemtasikan hasil risetnya dalam mengembangkan produk unggulan daerah, mulai dari benih sampai ke teknologi pasca panen, jika tidak ada kita akan ambil dari Universitas yang ada di Indonesia, jadi kita tidak memulai sesuatu yang baru lagi," ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Kabid Litbang Bappeda Kep. Babel, Adhari menambahkan, usulan Klaster Inovasi berbasis produk unggulan daerah Lada Putih merupakan upaya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk membangkitkan lagi kejayaan lada. Usulan sendiri dilakukan bersama dengan Universitas Bangka Belitung.
Menurutnya, dari 2,1 Miliar yang diajukan pada usulan Implementasi Klaster Inovasi berbasis produk unggulan daerah Lada Putih, 1,8 miliarnya untuk peralatan dan bahan baku berupa 10 ton lada, sedangkan 300 jutanya untuk biaya operasional.
Adhari mengharapkan dengan adanya pendanaan penguatan, peningkatan kapasitas dan implementasi klaster inovasi, dapat terbentuk model pengembangan klaster lada putih di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Selain itu juga dapat terbentuknya kawasan pengembangan industri lada dari hulu hingga hilir yang didukung oleh pembangunan sarana dan prasarana yang memadai di dalamnya serta dioperasionalkan dengan manajemen yang baik dan profesional.
"Bila ini dapat berjalan dengan baik, akan berdampak pada meningkatnya perekonomian masyarakat, khususnya petani lada dan stakeholdernya, dan perekonomian daerah," ungkapnya.
Salah satu Tim dari Kemenristekdikti, Jefri Rudyanto Sirait mengatakan, pada saat Fact Finding di Klaster Inovasi Babel ada dua hal yang harus diselesaikan, yaitu air dan listrik, namun hal tersebut dapat diselesaikan dengan cepat.
Menurutnya, lada putih merupakan kebanggaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Menurutnya dalam mengembangkan Lada Putih diperlukan kerjasama multi sektor.
"Dulu, yang saya tahu di Bangka Belitung ini timah, ternyata ada Lada, kalau Timah tidak bisa di renewable, tapi Lada merupakan renewable resource, berterimakasihlah, karena Lada Putih dapat tumbuh di Bangka Belitung, ini merupakan suatu kebanggaan," kata Jefri Rudyanto Sirait yang juga Presiden Direktur Astra Mitra Ventura.