Jakarta, Pada saat pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional Tahun 2018, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengatakan, komoditas yang paling berharga adalah waktu dan musuh utama kita adalah buang-buang waktu.

"Apa itu yang namanya buang waktu, ya cara kita yang bertele-tele, ngejelimet, muter-muter, rantai birokrasi yang panjang, rantai perizinan, rantai prosedur yang berbelit-belit, ini sudah waktunya ditinggalkan," kata Joko Widodo.

Masih banyak baik itu di Pusat maupun di Daerah dengan pola pikir seperti itu, menurut Joko Widodo apabila tidak ditinggalkan akan sulit untuk maju.

Minggu lalu, lanjut Joko Widodo, Pemerintah meluncurkan Making Indonesia 4.0, hal ini merupakan upaya pemerintah untuk menanggapi revolusi industri ke-4. Teknologi berkembang dengan cepat, bila tidak bergerak cepat akan ditinggalkan.

"Sekarang ini, bukan yg besar mengalah yang kecil, sekarang yang cepat akan mengalahkan yg lamban, itu kuncinya," kata Joko Widodo.

Joko Widodo mengingatkan untuk tidak terjebak pada rutinitas dan berani melakukan lompatan-lompatan, jika ini tidak dilakukan, menurut Joko Widodo, Indonesia akan kalah kalah dengan Laos dan Kamboja, saat ini ekspor Indonesia sudah kalah dengan Malaysia, Thailand dan Vietnam.

"Jika ada yang mau investasi buka lebar-lebar, apalagi yang orientasinya ekspor, udah tutup mata, jangan justru izin dibuat menjadi lama," kata Joko Widodo.

Proses perizinan dianggap masih terlalu lama, menurut Joko Widodo perizinan seharusnya hitungannya adalah Jam.

"Orientasi kita saat ini jangan orientasi prosedur, prosedur itu memang harus, orientasi kita sekarang adalah hasil, kita terlalu sibuk dengan urusan yang sepele dan tidak berguna dan tidak cepat menanggapi perkembangan teknologi, perkembangan inovasi dan peluang pasar yang sekarang akan semakin sulit jika kita tidak melakukan lompatan dan terobosan," kata Joko Widodo.