Pangkalpinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terus mengupayakan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Salah satu upayanya adalah dengan memasukkan emisi GRK sebagai salah satu indikator utama dalam indikator pembangunan daerah pada Rencana Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2025-2045.
 
Gas rumah kaca (GRK) adalah gas-gas yang terkandung dalam atmosfer, baik alami maupun antropogenik, yang menyerap dan memancarkan kembali radiasi inframerah. Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam, Andy Yusfany mengatakan, wilayah Kepulauan Bangka Belitung yang sebagian besarnya adalah laut menjadikan wilayah ini rentan terpengaruh kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global yang salah satu penyebabnya adalah kenaikan emisi gas rumah kaca.

"Untuk itu, kita perlu mencoba memahami apa itu gas rumah kaca, bagaimana menghitungnya, dan bagaimana memitigasi dan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan saat ini, apalagi Babel itu delapan puluh persennya adalah laut," kata Andy Yusfany pada saat membuka Workshop Perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca dalam Rangka Penyusunan Perencanaan Rendah Karbon Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, di ruang rapat Pulau Ketawai, Selasa (25/06/2024). Workshop ini dilaksanakan selama dua hari dari tanggal 25 sampai dengan 26 Juni 2024.

"Kita coba mengimplementasikan terutama di indikator pembangunan daerah, yang mana pada RPJPD menjadi indikator utama, yang diturunkan ke RPJMD, ke Renstra perangkat daerah pengampunya, kemudian ke RKPD. Mudah-mudahan pada indikator ini menunjukkan kita mampu memitigasi dan beradaptasi terhadap kondisi global akibat efek dari gas rumah kaca," kata Andy Yusfany.

Senada dengan Andy Yusfany, Irfan D. Yananto dari Kementerian PPN/Bappenas mengatakan, Kementerian PPN/Bappenas terus memperkuat keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan lingkungan dalam RPJPN Tahun 2025 – 2045. Ia menyampaikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan sangat kuat terintegrasi ke dalam RPJPN Tahun 2025-2045, yang salah satu sasaran pembangunannya ‘intensitas emisi GRK menurun menuju net zero emissions’, dengan target penurunan intensitas emisi GRK 93,5% pada 2045.

Penurunan emisi GRK dihitung dari kegiatan yang secara langsung menurunkan emisi gas rumah kaca pada lima sektor prioritas.  Pertama adalah sektor berbasis lahan yang terdiri dari subsektor kehutanan dan lahan gambut serta sub sektor pertanian.

"Kedua, sektor berbasis energi , yang terdiri dari subsektor energi, subsektor transportasi. Ketiga, sektor berbasis industri. Keempat, sektor berbasis limbah yang terdiri dari persampahan dan limbah cair, dan kelima sektor berbasis kelautan dan pesisir," kata Irfan D. Yananto.


Lower Emissions, GHGs Key Indicator of Babel's RPJPD

Pangkalpinang - The Provincial Government of Kepulauan Bangka Belitung continues to strive to reduce greenhouse gas (GHG) emissions in Kepulauan Bangka Belitung Province. One of the efforts is to include GHG emissions as a regional development indicator in the 2025-2045 Regional Long-Term Plan (RPJPD) of the Kepulauan Bangka Belitung Province.

Greenhouse gases (GHGs) are gases contained in the atmosphere, both natural and anthropogenic, which absorb and re-emit infrared radiation. The Head of the Economic and Natural Resources Division, Andy Yusfany, said that the area of Kepulauan Bangka Belitung is mostly sea, making this region vulnerable to sea level rise due to global warming, one of which is caused by an increase in greenhouse gas emissions.

"For this reason, we need to understand what greenhouse gases are, how to calculate them, and how to mitigate and adapt to current environmental conditions, especially since Babel is eighty percent sea," said Andy Yusfany when opening the Workshop on Greenhouse Gas Emissions Calculation for Regional Low Carbon Planning Preparation in Kepulauan Bangka Belitung Province, in the Pulau Ketawai meeting room, Tuesday (25/06/2024). This workshop was held two days from June 25 to 26, 2024.

"We are trying to implement [low GHG emissions – transl.ed.], especially in regional development indicators, in which the main indicators of RPJPD are derived to the RPJMD, to the strategic plan of the supporting regional units, then to the RKPD. Hopefully, this indicator shows that we can mitigate and adapt to global conditions due to the effects of greenhouse gases," said Andy Yusfany.

In line with Andy Yusfany, Irfan D. Yananto from the Ministry of PPN / Bappenas said the ministry keeps strengthening the balance between economic growth and the environment in the 2025 – 2045 National Long-Term Development Plan (RPJPN). He said that the sustainable development principles are strongly integrated into the 2025-2045 RPJPN, in which one of the development goals is 'GHG emission intensity decreases towards net zero emissions', with a target of 93.5% GHG emission intensity reduction by 2045.

GHG emission reductions are calculated from activities directly reducing greenhouse gas emissions in five priority sectors. The first is the land-based sector, which consists of the forestry and peatland subsectors and the agriculture sub-sector.

"Second, the energy-based sector consists of the energy subsector, transportation subsector. Third, the industry-based sector. Fourth, the waste-based sector consists of solid and liquid wastes, and fifth, the marine and coastal-based sector," said Irfan D. Yananto.